Kisah Pawang Ular Dan Seekor Ular Sawa

Posted: March 30, 2008 in Uncategorized

Alkisah, seorang pawang ular ternama
pergi ke sebuah daerah pergunungan
untuk menangkap ular dengan
kepakarannya. Saat itu, salji turun
dengan sangat lebat. Pawang itu pun
mencari ke setiap sudut gunung untuk
menemukan ular yang besar. Setelah
beberapa lama, akhirnya dia menemukan
bangkai ular sawa yang sangat besar.

Pawang itu amat gembira dan dia ingin
membanggakan hasil tangkapannya di
hadapan seluruh penduduk kota. Dia
membungkus ular sawa itu dan
membawanya ke kota Baghdad untuk
dipertontonkan. Turunlah dia dari
gunung dengan menyeret ular sawa
sebesar tiang istana. Dia sampai di
kota dan segera menceritakan
kehebatannya kepada setiap orang yang
dia temui. Dia berkata bahawa dia
telah bergomol dan berkelahi habis-
habisan sampai ular sawa itu mati di
tangannya.

Masalahnya, ternyata ular sawa itu
tidak benar-benar mati. Ia hanya
tertidur kerana kedinginan akibat
salji yang sangat tebal. Si pawang tak
mengetahui hal ini. Dia malah
mengadakan pertunjukan untuk umum di
tepian sungai Tigris. Berduyun-duyun
orang datang dari seluruh penjuru kota
untuk melihat pemandangan luar biasa;
seekor ular sawa dari gunung yang mati
di tangan seorang pawang ular.

Semua orang mempercayai cerita pawang
ular itu dan mereka tak sabar ingin
melihat binatang besar ini. Semakin
banyak pengunjung, semakin besar pula
pendapatan yang didapati oleh sang
pawang. Oleh sebab itu, pawang itu
menunggu lebih banyak orang yang
datang sebelum dia membuka bungkusan
ular sawanya. Dalam waktu singkat,
tempat itu sesak dipenuhi para
pengunjung. Sang pawang lalu
mengeluarkan ular sawa itu dari kain
wol yang membalutnya selama perjalanan
dari gunung.

Meskipun ular sawa itu diikat kuat
dengan besi, sinar matahari Irak yang
terik telah menerpa bungkusan ular
sawa itu selama beberapa jam, dan
kehangatan itu mengalirkan kembali
darah di tubuh ular. Perlahan- lahan,
sang ular sawa terbangun dari tidurnya
yang panjang. Begitu ular sawa itu
bangun, ia segera meronta dari ikatan
besi yang melilitnya.

python.jpg

Para penonton
menjerit ketakutan. Mereka
bertempiaran lari ke berbagai arah
dengan paniknya. Kini, ular sawa itu
telah lepas dari ikatannya. Banyak
orang terbunuh dan cedera kerana
peristiwa ini.

Si pawang ular berdiri terpaku
ketakutan. Ia menjerit-jerit, “Oh
Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Apa
yang telah aku bawa dari gunung?”

Ular sawa lalu melahap sang pawang
dalam sekali telan. Dengan cepat ia
menyedut darahnya dan meremukkan
tulang-tulangnya seperti ranting-
ranting kering.

MORAL KISAH INI:

Ular sawa adalah lambang nafsu
lahiriah. Bagaimana matinya ular itu?

Nafsu hanya dapat beku dengan
penderitaan dan kekurangan. Berilah
nafsu itu kekuatan dan hangatnya sinar
matahari, maka ia akan terbangun.
Biarkan ia beku dalam salju dan ia
takkan pernah bergerak. Namun bila kau
melepaskannya dari ikatan, ia akan
melahapmu bulat-bulat. Ia akan meronta
liar dan menelan semua hal yang ia
temui. Kecuali kau sekuat Nabi Musa
dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah
selalu nafsumu dalam lilitan keimanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s